Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Juni 2015

Kemanapun, Asal Bersamamu



“Kamu mau kita bulan madu kemana nanti, Nda?”
Tanyaku ketika kami sedang santai berdua di salah satu coffee shop favorit kami. Kulihat dia yang sedang mengacak-acak tasnya langsung menoleh kearahku.
“Haa.. Apa?”
“Kamu lagi nyari apa sih?”
Handphone… kayaknya ketinggalan di rumah deh.”
“Ya udah… aku kan disini. Handphone kan berguna kalau kita lagi LDR-an sayang. Tadi juga udah pamit ke mama.”
“Iiihh… kamu nih. Kalau ada yang hubungi aku? Siapa tau penting.”
Dia… selalu saja begitu. Bawel. Ada saja bantahan setiap aku berargumen. Dia, Arianda, calon istriku.
“Masih ada yang lebih penting dari aku…?”
“Huuu…”
“Hahahaha…”
“Tadi kamu nanya apa?”
“Gak jadi… udah lewat.”
Aku pun keburu kesal. Sudahlah… kupikir aku akan tanya lain waktu atau mungkin aku akan persiapkan sendiri tujuan wisata bulan madu kami. Yaaa.. itung-itung kejutan. Hari ini, kami lebih baik menghabiskan waktu untuk membahas persiapan pernikahan kami yang tinggal sebulan lagi.
***

“Siap…? Gak ada barang yang ketinggalan kan?” tanyaku memastikan.
“Kayaknya sih gak ada. Keril udah siap diangkut nih.”
Seminggu sudah kami resmi menyandang status sebagai suami dan istri. Dan perjalanan yang akan kami lakukan ini pun entah apa namanya. Bulan madu? Liburan? Atau petualangan?
Arianda, istriku, mengajakku untuk melakukan perjalanan ke Semeru. Iya… Gunung Semeru. Tujuan yang membuat banyak orang termasuk orang tua dan keluarga protes keras. Kalau biasanya pasangan pengantin baru berlibur atau bulan madu ke berbagai kota, pantai, atau wisata lainnya yang masih masuk akal dengan menginap di hotel, kami… malah mempersiapkan diri untuk menjelajahi gunung.
            Semeru, memang sudah masuk daftar tujuan perjalanan Arianda jauh sebelum mengenalku. Dia pernah bercerita tentang keinginannya ke Semeru sejak lama, sempat batal beberapa kali, tak menemukan waktu yang pas dengan beberapa teman, dan akhirnya, ketika dia punya kesempatan saat ini, cuti panjang dari pekerjaan paska menikah, dan punya aku (ehems…), dia pun tak melewatkan kesempatan yang ada.
“Makasi ya suamiku, udah mau nemeni aku sampai kesini.” Katanya sore itu sambil menikmati indahnya Ranu Kumbolo, ditemani secangkir kopi hangat.
“Terimakasih kembali, istriku. Mungkin aku juga gak akan pernah kemari kalau gak sama kamu. Euumm.. menikah dengan seorang petualang kayak kamu, mesti siap-siap nemeni kemana aja tujuan perjalanan yang kamu mau. Yaa.. asal sama kamu sih aku rela kemana aja.”
“huuu… gombal..!!” protesnya.
“Lhooo… iya dong. Buat aku, gak ada perjalanan, gak ada petualangan paling istimewa selain dengan teman hidup. Dan kalau kita sering melakukan perjalanan seperti ini, kita jadi makin tau karakter dari kita masing-masing, dan bisa semakin cinta kan…?”
“ahahaha… iya sih. Sok bijak… sok romantis kamu.”
Buatku, sore itu adalah sore pertama yang paling menyenangkan dan mengagumkan selama aku melakukan banyak perjalanan ke berbagai tempat. Dan aku ingin lebih banyak lagi sore yang mengangumkan, bersamanya.
“Aku juga mau menikah sama kamu karena kamu hobinya jalan-jalan lho, mas. Jadi… pasti mau nemeni aku kemana aja. Bahkan ke tempat ekstrim sekalipun.”
“Ahahahaha…” kamipun tertawa bersamaan.
***

            Aroma kopi yang semerbak membangunkan tidur nyenyakku. Kubuka mata, dan tersadar satu ciuman sudah mendarat di keningku.
“Selamat pagi, lelaki kesayangan…!!”
Ku lemparkan senyum termanisku pada Arianda.
“Hmmm… wangi kopi. Tumben banguni aku pake aroma kopi segala.”
“Biar kayak di iklan-iklan aja.”
“Ahahaha… kamu nih..”
“Ya udah bangun, sholat shubuh, terus diminum ya kopinya. Nda kebawah dulu, siapin sarapan.”
“Ok..!!” Jawabku singkat, sambil membiarkan Arianda berlalu ke lantai bawah, ke dapur, untuk menyiapkan sarapan.
            Masih setengah sadar, kuarahkan pandanganku ke layar komputer yang menyala. Yaaa.. kebiasaanku pun Arianda, setiap pagi setelah sholat shubuh pasti menyempatkan diri untuk online, berselancar di dunia maya. Entah sekedar membaca berita, cek email, atau cek notifikasi media sosial.
            Keindahan Bawah Laut Kepulauan Derawan. Kubaca judul besar yang tertulis di website yang terpampang di layar komputer. Kubaca singkat isi artikel yang tertulis di website tersebut dan melihat beberapa foto. Aku pun mengangguk pelan dan sedikit tersenyum.
“Mas Gentaaaa… udah sholat belum? Buruan turun yuk, sarapan..!!!.” Terdengar teriakan Arianda dari lantai bawah menyadarkan keseriusanku membaca artikel di website tersebut.
“Iya...iya...” Aku pun bergegas.
“Nda, masih ingat pertanyaanku sebulan sebelum kita menikah, waktu kita nongkrong di cafĂ© gak?” kubuka percakapan pagi itu di meja makan.
“Euumm… yang waktu handphone aku ketinggalan ya? Ya ampun… gimana mau ingat, apa pertanyaannya aja aku gak tau. Waktu itu aku minta kamu mengulang pertanyaannya kamu gak mau. Emang kenapa?”
“Oooh… ya udah deh. Gak apa-apa.”
“Tuh kaaann….!!”
“Ahahaha… udah… makan aja.”
***

“Bulan depan? Berau?”
            Kulihat wajah Arianda yang bengong sambil memegang tiket pesawat atas namaku dan namanya yang baru saja aku sodorkan.
“Iyaaa… urus cuti kamu ya…!!” kataku sambil tersenyum.
Detik itu pula Arianda memeluk erat tubuhku.
“Ya ampun maaaass… ini… kita mau ke…” Arianda seolah masih gak percaya.
“Iya sayaaaangg… Derawan.” Aku pun menegaskan.
***

Rona jingga langit Kalimantan, kepulauan Derawan  belum usai. Kami baru saja tiba di pulau ini. Salah satu tujuan perjalanan impian wanitaku.
“Pfuuuhh…!!” Arianda merebahkan tubuhnya di kasur salah satu penginapan yang kami sewa.
“Capek..?” tanyaku.
“Perjalanan yang panjang dan laaaamaaa… anyway makasi ya sayang untuk kejutannya. Kamu kok tau aku pengen banget ke Derawan? Dari kemaren-kemaren aku tanyain belum dijawab. Euum… sebentar..sebentar… kamu tau dari…”
Dasar Arianda… capek, tapi tetep bawel.
“Sudah… istirahat saja dulu. Besok dan beberapa hari ke depan pasti akan lebih melelahkan tapi juga pasti seru.” Kataku sambil mengelus kepalanya.
“Ya dooonngg… perjalanan pasti seru kalau ada aku.”
“Huuu… GR” Ku cubit pipinya sambil berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***

“Mas… mas Genta… mas Genta kamu dimana?” kudengar teriakan Arianda dari dalam penginapan.
“Iya sayaaaang…aku diluar.” ku sahut panggilannya dengan sedikit berteriak dari luar penginapan, sambil mataku masih menatap mentari yang perlahan muncul.
Beruntung kami mendapatkan penginapan yang dibangun di atas laut. Sensasinya memang berbeda. Sekeliling penginapan hanya disuguhi pemandangan air laut. Sehingga tak butuh jarak yang jauh antara pintu penginapan dengan tempatku bersantai, di ujung anjungan tempat biasa kapal kecil berlabuh yang biasa mengantar jemput kami.
“Duduk sini.” Ku ajak Arianda duduk disampingku.
“Aaahh… berasa gak mau pulang ya mas. Nyaman banget. Meski capek keliling-keliling pulau, snorkeling, berenang bareng ubur-ubur, main-main pasir, melihat penyu dan manta. Gak rela kalau hari ini kita harus pulang.” Arianda berkomentar sambil matanya pun tertuju ke mentari yang semakin kelihatan, tanda pagi mulai menjelang.
“Sayang, Arianda istriku…” ku pegang tangan Arianda dan sedikit menariknya agar kami duduk berhadapan.
“Kamu gak perlu tau darimana aku tau kalau tempat ini adalah salah satu tujuan perjalanan impianmu. Mungkin kamu memang belum pernah cerita ke aku seperti kamu cerita soal betapa kamu sangat ingin ke Semeru. Tapi aku, akan selalu berusaha mencari tau apapun untuk bahagiamu. Terimakasih untuk satu tahun tetap setia menjadi orang yang pertama ku lihat di pagi hari dan menjadi orang yang terakhir ku lihat di malam hari. Kita sudah banyak melewati perjalanan mengagumkan, sehingga aku semakin tau karakter kamu, dan justru itu yang membuat aku semakin jatuh cinta padamu. Aku masih mau melewati banyak perjalanan mengagumkan bersamamu, yaaa mungkin kelak bersama jagoan-jagoan kecil kita. Laut, gunung, hutan, kemanapun asal denganmu.”
Arianda tersenyum sambil diletakkannya kedua tangannya di pipiku. Kemudian ku lihat wajahnya sedikit kaget.
“Eh iya… hari ini satu tahun pernikahan kita ya mas. Ya ampuuunn… kok bisa aku yang lupa. Kan biasanya kamu yang sering lupa sama hari-hari penting.”
Dan Arianda langsung menarik tubuhku, memelukku erat.
“Terimakasih juga ya sayang, untuk semuanya.”
 ***



Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com

Minggu, 12 April 2015

Dia yang Dicari



Berat rasanya harus mempercayai kenyataan yang ada saat ini. Kenyataan bahwa jatah liburanku telah berakhir. 4 hari 3 malam di Karimun Jawa masih saja terasa kurang. Aku masih betah. Aku jatuh cinta pada pulau ini.

Sambil mengangkat kerilku, ku sempatkan melihat jam tanganku. Sudah pukul 7 tepat. Saatnya bergegas menuju pelabuhan. Aku bersama Sari, sahabat ku yang datang dari Bandung yang sengaja mengunjungiku di Yogya dan memaksaku untuk berlibur ke Karimun Jawa saat liburan semester tiba. Aku pun tak kuasa menolak, karena aku juga sudah lama ingin ke Karimun Jawa namun tak pernah menemukan waktu yang pas untuk berlibur bersama teman-teman kampusku. Dan ketika Sari menawarkan pilihan liburan yang kuidamkan, aku pun tak mungkin menyia-nyiakannya.

Aku, Sari, bersama beberapa orang lainnya yang bernaung pada satu travel tour pun sudah siap naik ke atas mobil pick-up yang siap mengantar kami ke pelabuhan. Yaaa… travel tour ini memang khusus backpacker a.k.a khusus wisatawan dengan low budget. Jadi yaaa.. fasilitas seadanya namun masih wajar.
Klakson kapal pun sudah dibunyikan. Pertanda kapal akan segera berangkat. Aku, Sari dan yang lainnya menjadi penumpang terakhir yang naik ke kapal feri ini. Kapal pun sudah berlayar, sementara aku dan Sari masih sibuk mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat selama di kapal.

Hari ini penumpang terlihat lebih ramai daripada saat kami berangkat 4 hari lalu. Kami pun merasa lebih sulit mencari tempat istirahat yang nyaman, meski hanya untuk duduk meleseh.

“Na, ke atas aja yuk!” Sari mengajakku untuk istirahat di bagian atap kapal.

“Panas, lha Sar..!” Jawabku.

“Kita lihat dulu. Makanya ayok buruan, mudah-mudahan masih ada tempat yang agak teduh.” Paksa Sari.

Aku pun menurut pada Sari. Dan benar saja, di atap kapal masih sepi. Hanya ada beberapa orang saja. Dan ku lihat ada tempat yang sedikit teduh. Aku pun segera mengambil tempat tersebut meski sudah ada 3 orang gadis yang duduk lebih dulu.

“Permisi, mbak. Kita boleh gabung? Belum ada orang yang nempatin kan?”

“Haah..!! Oh iya, silahkan. Enggak kok mbak. Kita cuma bertiga.”  Jawab si mbak dengan ekspresi awal agak terkaget karena saat itu dia sedang serius membaca buku.

“Terimakasih yaa…” Jawabku dan Sari.

Akhirnya aku pun bisa meletakkan kerilku dan meluruskan kaki setelah berkeliling kapal setengah jam lebih.

Aku pun segera mengeluarkan perlengkapan tidur. Keril kujadikan sebagai bantal, jaket untuk menutupi tubuh, dan slayer untuk menutupi wajah.  Yaaa… seperti biasa, kendaraan selalu membuatku mabuk. Dan kali ini siap-siap aku diserang mabuk laut kalau tidak segera tidur. Apalagi perjalanan ini akan ditempuh selama 6 jam.

“Sar, sorry yaaa.. seperti biasa.. hehehe..” aku pun berpamitan untuk tidur pada Sari.

“Ah, kamu… selalu deh. Kamu tidur, aku keliling kapal deh yaaa.. jagain nih tas aku juga.”

Sari sudah mulai paham kebiasaanku setiap melakukan perjalanan. Karena melakukan perjalanan bersamanya bukan kali pertama. Naik bus, pesawat, dan sekarang kapal. Penyakitku sama. Mabuk. Mabuk darat, laut, udara. Hanya berkendara dengan motor yang aku tidak akan mabuk. Dan obat mabukku adalah tidur.

Aku pun siap merebahkan diriku di lantai atap kapal feri ini. Sambil izin juga dengan si mbak yang di sebelahku.

“Mbak, maaf yaa.. saya tiduran dulu. Gak apa-apa kan mbaknya?”

“eh.. iya.. gak apa-apa mbak. Silahkan… masih lapang gini kok tempatnya.”

“hehehe… makasi ya mbak” aku pun berterimakasih sambil nyengir-nyengir ga jelas dan berusaha mengingat sesuatu.

Gadis ini wajahnya ga asing. Seperti pernah lihat dimana yaa..?? aku pun membatin. Berusaha mengingat. Aku pun bangun lagi dari posisi tidurku.

“Mbak… orang asli Karimun Jawa ya?” ku colek si mbak dan bertanya .

“hmm.. kenapa…?”

“Iyaaa.. mbaknya tinggal di Karimun Jawa atau Jepara?” aku menegaskan pertanyaanku.

“Oh… orang tua saya asli Semarang, tapi kami tinggal di Karimun Jawa. Kenapa mbak?” dia pun bertanya balik.

“Enggak… kita pernah ketemu gak ya? Wajah mbak ga asing.”

“Ah, masa sih? Saya ga pernah merasa ketemu mbak. Atau mungkin saya lupa. Euumm… tapi rasanya memang belum pernah.” Dia berusaha meyakinkanku.
Dan aku pun berusaha mengingat dimana aku pernah melihat si mbak ini.

“Mbak, sering bolak balik Karimun Jawa – Jepara ?”

“Enggak juga sih. Dulu saya SMA di Jepara. Yaa.. sebulan sekali saya pasti pulang ke Karimun Jawa. Tapi sejak lulus 4 tahun lalu, saya lebih sering tinggal di pulau. Saya terakhir ke Jepara 6 bulan lalu.”

“Setahun lalu mbak ada ke Jepara, ga?” aku sepertinya mulai mengingat sesuatu.

“hmmm….” Gadis cantik dihadapanku ini mulai berusaha mengingat.

“Ada sih beberapa kali. Bareng ibu, trus pernah jemput temenku yang mau liburan di pulau juga sih kalo ga salah.”

“Naaahh… pernah dimintai tolong buat foto-foto sekelompok wisatawan gitu ga mbak.?”

Aku semakin bersemangat ngobrol dengan gadis cantik ini. Dan seketika lupa akan mabuk laut ku.

“waaahh… ga ingat mbak. Dari jaman aku sering bolak-balik Karimun Jawa-Jepara, aku sering dimintai tolong buat foto-in orang-orang. Soalnya aku selalu duduk di atap kapal, dan pasti setiap orang yang ke atap kapal minta difoto. Jadi lumayan sering aku ambilin foto wisatawan gitu.”

“Yang setaun lalu mbak. Inget ga..?”

“Kenapa sih mbak?” nah lho… si mbak mulai heran dengan semua pertanyaanku.

“Enggak apa-apa mbak. Saya kan tadi bilang seperti pernah lihat wajah mbak. Saya sepertinya pernah lihat wajah mbak ada di salah satu foto seseorang. Hehehe…”



“Haaaahhh..!!”

“Mbak belum nikah kan?” pertanyaan kramat ini akhirnya terlontar.

“Be..lum..” dia pun menjawab dengan ekspresi bingung.

“Saya Nirina mbak, kalo mbak?” kusodorkan tanganku tanda perkenalan.

“Isna.” Jawabnya dengan nada yang masih bingung sambil menerima tanganku tanda perkenalan.

“Udah mbak, ga usah bingung. In Shaa Allah saya nanti main lagi ke Karimun Jawa, jadi kita kan bisa ketemu lagi dan jadi teman baik. Ya kan??  Saya istirahat dulu ya mbak. Udah mulai pusing.“

Aku pun langsung kembali merebahkan diri. Dan meninggalkan gadis cantik berhijab di samping ku ini yang masih bingung.

Sambil memejamkan mata aku pun tersenyum dibalik slayerku. Sempat kuintip kembali mbak Isna. Meski tadi sempat bingung, dia kembali membaca bukunya. Wajahnya kini tanpa ekspresi, dingin, sama seperti di foto candid si kakang.
Dan aku begitu bersemangat ingin segera menelepon kakang begitu sampai Yogya nanti. Dan bersiap mengajak kakang untuk liburan ke Karimun Jawa.

=================================================================


kisah ini  berkaitan dengan kisah sebelumnya >> DISINI

dan ceritanya bersambung apa enggak? we'll see.. hehehe...

Rabu, 16 April 2014

Tentang Hawa



Jarum jam tanganku menunjukkan pukul setengah empat sore. Dan langit terlalu gelap untuk sore yang seharusnya cerah. Sepertinya akan turun hujan. Vespa kesayanganku pun aku belokkan ke jalan braga. Lima belas menit berselang aku sudah duduk rapi di dalam salah satu coffee shop tempat aku mengatur janji bertemu dengannya. Seseorang yang sudah tiga bulan belakangan aku kenal. Tak terlalu dekat sebenarnya. Aku hanya pernah melihatnya beberapa kali datang bersama ibunya di mesjid tempat aku biasa sholat shubuh atau maghrib berjamaah. Mulanya biasa, tapi tak bisa dipungkiri kegiatan rutinnya ke mesjid cukup menarik perhatianku. Seorang gadis belia bersama sang ibu hampir setiap hari sholat berjamaah di mesjid. Aahh... lelaki mana yang tak terpesona. Tapi kekagumanku hanya sebatas itu.
Siapa sangka dua minggu setelah aku sering memperhatikannya, kami dipertemukan dalam satu pertemuan komunitas sosial. Dan aku akhirnya berkenalan dengannya. Aisyah namanya. Nama yang pantas disanding olehnya. Sejak saat itulah aku mulai berkomunikasi dengannya. Aku pun akhirnya tahu bahwa dia juga suka memperhatikanku yang cukup sering sholat ke mesjid. Sudah pasti aku merasa tersanjung, dan mulai berpikir ingin kenal lebih dekat dengannya.
Hari ini, hampir tiga bulan aku mengenal dia. Sudah pernah pula aku berbincang ringan dengan ibunya ketika bertemu di mesjid, pun dengan adik lelakinya, yang belakangan sering aku ajak jalan ataupun ngobrol santai di sekitar halaman mesjid jika menunggu adzan maghrib berkumandang. Maka aku semakin menyenangi keluarganya, dan aku ingin menjadi bagian keluarganya.
Hujan pun turun dengan sangat deras pada akhirnya. Bandung yang sudah dingin menjadi semakin dingin. Jalanan mulai basah, tak ada aktifitas pejalan kaki di braga sore ini. Secangkir espresso pesananku pun datang tepat saat Aisyah datang. Dan disaat itu pulalah senyum yang harusnya aku sunggingkan untuk Aisyah memudar. Aisyah memang sempat mengabarkan bahwa dia akan datang bersama temannya karena sungkan jika harus bertemu di luar rumah dengan lelaki hanya berdua. Maka aku pikirpun tak masalah. Mungkin menghindari fitnah. Mengingat katanya, dia juga sedang didekati seorang lelaki. Dan aku pikir dia akan datang bersama teman wanitanya atau adik lelakinya.
Tapi… Aisyah pun tersenyum ke arah ku sambil mengenalkan seorang lelaki yang datang bersamanya. Aku tak begitu jelas mendengar nama lelaki itu. Aku masih belum bisa mengontrol diriku. Maka obrolan yang mengalir sore itu entah apa saja. Niat untuk menyampaikan maksud sebenarnya kepada Aisyah runtuh seketika.
--- 0ooo0 ---

Seorang di seberang telepon sepertinya sangat penasaran dengan kisahku hari ini. Dia adalah adik perempuanku, Nirina, yang saat ini sedang berkuliah di Yogyakarta. Sosok yang selalu menjadi tempat aku berbagi cerita soal wanita yang aku dekati. 
“Kakang sepertinya mundur saja, Na.” Kataku di tengah obrolan yang sudah terjadi hampir empat puluh menit.
“Lho… kok…?? Kamu belum mulai kang… masa udah menyerah.” Nirina berargumen.
“Dia datang sama cowok yang aku rasa cowok itu adalah orang yang lagi dekat sama dia.”
“Emangnya cowok itu mengenalkan diri sebagai pacar atau calon suaminya Aisyah…?” Nirina mulai terdengar tak sependapat.
“Ya enggak sih. Tapi kan tadi udah semacam peringatan. Mungkin kedekatanku selama ini dengan Aisyah emang cuma dia anggap sebagai pertemanan biasa dan sebatas tetangga.”
“Kakang belum nanya sama orangnya, belum cari tahu yang sebenarnya, udah punya jawaban dan kesimpulan sendiri. Kalau ternyata salah gimana…?? Perang belum dimulai, pendekarnya udah mundur. Gimana sih…??”
“Euumm…” Cukup lama aku terdiam dan mencerna semua ucapan Nirina.
“Telepon dia sekarang kang, katakan maksud kakang yang sebenarnya. Atau, kalau perlu ke rumahnya jika dia sungkan ketemu berdua di luar.”
“Kamu mungkin ada benarnya, Na. Tapi kalau ke rumahnya gak memungkinkan, ada ibu dan adiknya, sama aja gak ada obrolan empat mata. Kalau telepon sudah kemalaman.”
“Besok kan masih bisa ditelepon kakang…” Nirina kembali sewot.
“Iya.. nanti aku telepon deh.”
Dan pembicaraan kami pun tak berlangsung lama setelah pembahasan tentang Aisyah. Sang malam sudah semakin larut.
--- 0ooo0 ---

Assalamualaikum… Pagi Aisyah… tolong cek email yaaa… saya ada mengirim sesuatu. Dan segera sms saya balik kalau emailnya sudah dibalas.
--message sent—

Aku memutuskan untuk memberitahu maksudku kepada Aisyah lewat email saja. Dan pagi ini, baru saja aku mengabarkan kiriman emailku lewat sms kepadanya. Entahlah… apa iya aku tidak cukup berani mengutarakan secara langsung maksudku yang ingin melamarnya, menikah dengannya? Tapi ku rasa lewat sebuah tulisan sebuah tujuan akan tersampaikan lebih efektif. Sang pembaca pasti akan coba mencerna dan mungkin membaca berulang setiap kalimat yang tertulis untuk kemudian dia pahami dan mengambil sebuah keputusan tepat.
Aku memang sepakat dengan Nirina untuk mencari tahu jawaban, maju berperang sampai bendera putih dikibarkan atau justru bendera kemenangan yang terkembang, meskipun aku tak mengikuti sarannya untuk menelepon apalagi datang kerumahnya.
Sehari… dua hari… hampir seminggu sudah sms balasan dari Aisyah tak kunjung ku terima. Dan aku pun memang tak terlalu begitu memikirkannya belakangan ini karena kondisi ayah yang sedang sakit. Aku lebih memikirkan ayah, dan bahkan terpaksa aku harus kembali ke Garut untuk membantu ibu menjaga ayah. Usaha distroku di Bandung aku tinggalkan sementara waktu.
--- 0ooo0 ---

Assalamuaikum akang… Maaf baru beri kabar. Kemarin-kemarin saya masih sibuk untuk urus wisuda, jadi baru kemarin sore sempat cek email. Kaget ih baca emailnya :) dan email akang sudah saya balas yaaa…
--message received—

Jantungku terasa berdetak tak biasa begitu menerima sms dari Aisyah. Dan seketika aku meluncur ke warnet untuk membaca balasan emailnya. Aahh… perasaanku benar-benar tak karuan hari ini.
Tersenyum, tertawa, bingung, sedih dan berakhir pada kelegaan setelah setiap kalimat yang tertulis di layar surat elektronik itu aku baca.
Aisyah… terimakasih sudah pernah hadir di hidupku.
Aisyah… aku mundur dan berhenti berharap terhadapmu.
Aisyah… ku hargai keputusanmu.
Aku berusaha menegarkan diri ketika berjalan pulang ke rumah. Berusaha terdengar santai dan tersenyum saat aku menelepon Nirina untuk mengabarkan isi balasan email dari Aisyah.
 “Dia bilang dia belum siap menikah dalam waktu dekat, Na. Dan cowok yang waktu itu datang dengannya memang cowok yang sedang mendekati dirinya, teman kampusnya. Yaaa… meskipun kata dia mereka gak pacaran dan belum ada pembicaraan serius ke arah pernikahan, tapi dari cara dia bercerita aku tahu dia juga membuka hati untuk cowok itu.” Aku menjelaskan panjang lebar pada Nirina.
“Euumm… ya..ya.. belum siap menikah…?? Klise sih kang… itu cuma alesan menolak kakang secara halus. Dan mungkin, bisa jadi dia gak punya perasaan lebih sama cowok itu. Untuk saat ini mungkin dia cuma nyaman jalan sama cowok itu. Temen kampus nya sih. Tiap hari ketemu.
“Seenggaknya kakang udah mencoba dan udah tahu jawabannya kan…?? Gak cuma nebak-nebak dan gak mengambil kesimpulan sendiri. Perjuangan kali ini memang sudah berakhir kang, tapi tetaplah berjuang untuk orang-orang yang pantas diperjuangkan. Untuk sekarang, ada ayah yang butuh kakang. Maaf, Nirina belum bisa pulang. Nirina cuma bisa kirim doa buat ayah. Tetaplah membangun asa meski kita belum tahu pada apa dan siapa asa itu tertuju, meski kita belum tahu kapan asa itu berujung. Cepat atau lambat kita pasti akan sampai pada satu kebahagiaan kan…?”
Aku tersenyum mendengar tiap kalimat yang terlontar dari pemilik suara di seberang sana. Aaahh.. Nirina… meski kamu lebih muda dariku, kamu selalu bisa menenangkanku.
Thanks ya, Na.” ucapku sebelum mengakhiri obrolan.
--- 0ooo0 ---

Lima hari sudah berlalu sejak aku membaca balasan email Aisyah. Aku baik dan terus berusaha merasa baik. Dan Alhamdulillah, ayah juga sudah semakin membaik meski aku belum tega meninggalkan ayah dan ibu untuk kembali ke Bandung.
Sore hari di Garut tak kalah menyenangkan dengan sore di Bandung. Yaaa… sudah lima hari ini pula setiap sore aku menghabiskan waktu di pinggir pantai ranca buaya. Cuma butuh waktu setengah jam dengan berjalan kaki aku sampai di pantai yang indah ini. Aku menemukan ketenangan dan kedamaian disini. Aku seperti merasa bisa lebih dekat dengan sang Khalik. Mencoba membangun kembali mimpi-mimpi dan harapan-harapanku. Bahkan mencoba mengingat apa yang sudah terjadi. Aaah… terkadang malas mengingat sebenarnya, tapi tetap saja teringat.
Teringat pada gadis manis berkerudung yang aku temui di kapal saat aku hendak menyeberang untuk liburan ke Karimun Jawa. Gadis yang sebut saja namanya “Iis”. Aku suka tersenyum geli sendiri mengingatnya. Gadis yang terlihat jutek dan cuek. Namun kejutekan dan kecuekannya luntur seketika saat dia menawarkan diri untuk membantu kami mengambil foto, karena dia melihat temanku yang menoleh kesana-kemari mencari orang yang bisa dimintai tolong untuk memoto kami. Dia tersenyum dan tanpa ragu menawarkan bantuan. Sayang, aku tak sempat berkenalan dengannya. Setelah memoto kami dia langsung berlalu entah kemana. Aku tak menemukannya kembali di seputaran kapal.
Sampai-sampai sempat tersirat niat gila ingin kembali ke Karimun Jawa hanya untuk mencari kembali sosok “Iis”, karena aku yakin dia adalah penduduk lokal Karimun Jawa, jadi pasti tak terlalu sulit menemukannya dengan modal satu foto yang sempat aku candid sebelum dia berlalu pergi waktu itu. Tapi melalui foto itulah aku menyadari sesuatu, menyadari tak seharusnya aku meneruskan niat gila ku itu. Sebilah cincin telah melingkar cantik di jari manis tangan kanannya. Aaah... sepertinya dia sudah menikah. Dan aku senyum-senyum sendiri sore ini mengingat kekonyolan ku kala itu.
Indira… salah satu teman di komunitas sosial juga sempat menarik perhatianku sebelum aku mengenal Aisyah. Gadis sumatera yang pintar dan humoris. Gadis yang pernah dengan tegasnya mengkritik ku secara terang-terangan untuk beberapa hal. Tapi justru tindakannya yang mengkritikku itulah yang menyadarkan ku bahwa aku jatuh hati padanya. Sampai aku menyadari bahwa aku mungkin tak pantas untuknya. Aku mundur sebelum berjuang. Aku mengurangi intensitas kedekatanku dengannya hanya karena masih merasa kurang pantas. Indira, gadis sholeha, cantik dan pintar lulusan universitas luar negeri, sedangkan aku hanya pengusaha kecil lulusan akademi swasta di Bandung. Aku yakin masih banyak lelaki terbaik di luar sana untuk Indira.
Aku ingat bagaimana Nirina kecewa karena aku mundur sebelum memperjuangkan Indira. Aku diam sebelum bertanya dan mencari jawaban yang aku inginkan. Maka itu, kenapa Nirina tak mau lagi membiarkanku mundur sebelum memperjuangkan Aisyah. Meskipun hasilnya tetap tak sesuai keinginanku.
Suara debur ombak menyadarkan lamunanku, menyadarkan sederetan ingatan ku tentang ciptaan Tuhan yang bernama Hawa. Aaahh… sebegitu rumitnya kah memperjuangkan niat mulia? Sebegitu rumitkah menemukan cinta? Aku hanya ingin melengkapi sunnah Rasulmu ya Allah. Menjadi pengantin, menjadi suami terbaik, menjadi imam yang sholeh untuk keluarga kecilku kelak, menjadi ayah yang hebat bagi anak-anakku.

Fokus pada apa yang ada sekarang saja dulu, kang. Ayah lebih membutuhkanmu. Dan nanti, jika kembali ada wanita yang menarik perhatianmu, tak perlu gegabah. Kenali saja dia terlebih dahulu, selipkan dia dalam tiap doamu. In shaa Allah, Dia akan menuntunmu padanya.

Isi sms Nirina ku terima saat aku sampai dirumah. Dan saat hendak menutup pagar rumah, kembali, ada seorang gadis menarik perhatianku. Gadis itu, sudah tiga hari ini aku sering melihatnya menggandeng ibu tua, mungkin ibunya, naik turun angkot di jam delapan pagi ataupun jam enam sore seperti sore ini. Sekilas, sore ini aku melihat jelas wajahnya. Subhanallah cantik. Dan dia tersenyum ke arahku.
--- 0ooo0 ---