Jumat, 24 Januari 2014

Jejak Langkah di Kota Daeng



Ini bukanlah sekedar catatan perjalanan seperti biasanya. Catatan perjalanan yang biasanya memang sengaja ditulis setelah merencanakan panjang kali lebar berlibur di suatu tempat. Aahh… muter-muter bahasa saya. Hehehe…

Intinya, ini adalah catatan perjalanan yang bukan hanya perjalanan. Ada unsur keberuntungan, unsur ajakan, dan unsur keinginan dari perjalanan ini.

Begini kisahnya…

Agustus 2013, saya mendapat undangan via facebook perihal satu acara yang tidak bisa dibilang acara kecil dan biasa. Gathering Nasional Sahabat Indonesia Berbagi (Gathnas SIGi) di Makassar, yang akan diadakan pada November 2013.

(SIGi – Komunitas Berbagi anak muda Indonesia >> http://sahabatindonesiaberbagi.org )

Oke… M.A.K.A.S.S.A.R. – Pulau Sulawesi.

BUKAN perkara MUDAH… lebih tepatnya BUKAN perkara MURAH bisa sampai kesana. Saya yang biasa ngebolang ke pulau Jawa saja biasa berburu tiket promo dari setahun sebelumnya. Dan ini… rasanya alangkah ajaib binti mustahilnya saya jika berharap ada tiket promo ke pulau Sulawesi dalam tempo 2 bulan.

Maka ketika flyer acara tersebut bolak-balik seliweran di beranda facebook, ketika seorang rekan dari SIGi bolak-balik merengek merasa akan sangat menyesal jika tak ikut kesana, ketika saya pun mupeng parah mau kesana tapi rasanya masih ga mungkin… ahh… ketika itu pula maskapai hijau muncul memberi angin segar.

Saya lupa tepatnya tanggal berapa, yang jelas itu adalah hari Senin. Atas dasar saya yang agak ga enak body memutuskan untuk tidak masuk kantor, maka leyeh-leyeh dirumah sambil online pun menjadi pekerjaan saya hari itu :D

Disaat itulah muncul info soal tiket promo tersebut. Promo yang ga nanggung-nanggung. 55ribu all route domestic. Ini namanya semacam nemu air es di gurun pasir. Ahiiiw…

Maka tanpa pikir panjang… saya pun memproses dengan sigap pemesanan tiket tersebut. Dan amat sangat tidak mudah meeeenn… yaiyalah tiket murah gilak ini.

Tapi ga putus asa doong… bolak-balik web nya drop,, belum lagi koneksi i-net naik turun, bolak-balik ke ATM karena sempat salah kode pembayaran. Aagghh…  Finally berhasil… dengan menyesuaikan tanggal keberangkatan dengan acara SIGi,, tiket Medan – Jakarta – Makassar - Jakarta berhasil disabet. Berasa menang award aja deh… hihihi…

Maka keberhasilan yang saya peroleh tak mau saya nikmati sendiri. Menghubungi beberapa rekan SIGi Medan yang kiranya mau ikut, dan berhasil kembali… 2 tiket PP Medan-Jkt-Makassar berhasil saya sabet untuk mereka. Selamat ya mantemans *halaaah :D

Inilah yang namanya niat tulus dan sungguh-sungguh dimudahkan jalannya oleh Allah :)

Makassar I’m Coming ^_^


31 Oktober – 1 November 2013

Dengan diawali adegan kecelakaan motor tunggal (entah kebodohan, kesialan, pertanda, apalah bahasanya) sesaat sebelum nyampe kantor,, sore harinya saya tetap melanjutkan penerbangan menuju Jakarta dengan kaki lecet-lecet. Bersama Partner semprul saya, Yudhi Septian :p

ini dia Partner semprul saya :p

Bermalam di Soekarno-Hatta, tidur beralaskan lantai dingin anjungan penumpang bandara. Oh iyaa.. saya gak tidur sih.. tp partner saya yg tidur pules :p Yaiyalaaahh.. saya udah puas tiduran di pesawat, jadinya menghabiskan semalaman dengan membaca buku sambil jagain si partner semprul saya.

Pose sekelak sebelum check-in

Menjelang shubuh, kami pun masuk bandara untuk check in. Sok-sok-an self check-in… yang ada begitu selesai check in baru menyadari kalo kursi kami berjauhan. Haaa… yasudahlha yaaa… Kau disana aku disini (apeudah :D )

Hampir jam 7 pagi, pesawat maskapai hijau ini pun melesat ke udara. Aaahh.. ada pemandangan yang tak biasa sebenarnya sejak kami ada di waiting room tadi.

Jadi… saat itu kami  bersama dengan rombongan bapak-ibu baru pulang haji. Ga ngerti juga gimana ceritanya, kenapa ada rombongan haji yang pulang lewat Jakarta dan malah naik pesawat hijau. 

Nah..pemandangan yang bagi saya tak biasa adalah ibu-ibu hajjah, yang seyogiyanya memakai jubah putih dan hijab/mukenah putih, kali ini menggunakan pakaian rame meriah layaknya akan ke pesta, lengkap dengan make-up. Maka usut punya usut, dari pembicaraan 2 orang ibu hajjah yg berpakaian biasa, ternyata orang-orang asli Makassar memang seperti itu kalau pulang berhaji. Seolah-olah memperlihatkan kebahagiaan mereka setelah pulang dari tanah suci.

Dan saya pun hanya tersenyum saja melihat pemandangan tersebut. Yaa.. inilah mungkin salah satu budaya penduduk Indonesia. Tentunya cukup dimaklumi dan dihormati :)

Okey… setelah pemandangan tak biasa itu.. maka beberapa belas menit sebelum mendarat, saya pun disuguhi pemandangan yang tak kalah luar biasa.

Rentetan pulau-pulau kecil begitu jelas terlihat ada di sekitar Sulawesi. Bahkan ada yang dekat sekali dengan Makassar. Mungkin salah satunya adalah Samalona. Yaakk.. salah satu tujuan saya setelah sampai ke Makassar nanti ;)

salah satu pulau yang terlihat jelas sebelum mendarat di Makassar

Hampir pukul setengah sepuluh, pesawat kami pun mendarat dengan mulus. Adalah Ratih, Rifah, Adry, dan Hotman yang menjemput kami.  Maka kami pun digiring ke markas a.k.a kastil SIGi Makassar (Rumah salah satu SIGiers yang dijadikan basecamp) :D

Saya dibonceng Ratih, dan mas Yudhi di bonceng Hotman, Rifah berboncengan dengan Adry.  Tapiiiii… ini salah satu adegan yang buat saya pengen jitak si Ratih *eh :p kenapa saya malah dipindah untuk kemudian boncengan dengan Adry di tengah jalan, dengan alasan Ratih mau singgah ke kampus, dan Rifah yang tadinya boncengan dengan Adry pergi berboncengan dengan Ricky (yang ternyata tadinya ikut jemput ke bandara, tapi ban motor nya bocor).
Ya ampuuunn… kenapa ga dari awal gitu, saya dibonceng Adry dan Ratih-Rifah langsung samperin Ricky???  Anak-anak yang aneh :p

Saya hanya bisa angguk-angguk geleng-geleng aja saat itu. Mungkin ini temen-temen masih pada grogi ya jemput orang keren *eh *dudududu :p

Sesampainya di kastil, saya sesungguhnya sudah ingin beranjak menyusur kota Makassar,, kaki udah gatel pengen jalan. Tapi apalah daya, partner semprul saya katanya capek… hoosshh >.< dan temen-temen Makassar agaknya masih pada kebingungan tetamunya ini mau diapain. Hahaha… maka menikmati coto Makassar siang-siang dijadikan destinasi pertama.



Makan coto siang-siang :)

Lalu, tibalah Nunu, dan saya berkesempatan berboncengan dengannya menuju venue acara Gathnas. Dengan dialah saya mencurahkan keinginan saya membolang di Makassar, mengingat saya hanya sebentar di Makassar dan tidak bisa ikutan acara Gathnas versi nge-trip ke beberapa tempat. Dan agaknya saya cocok dengan adek Nunu ini… hehe.. si Kakak keren no.2 versi SIGiers Makassar :D makanya bisa pede banget gitu langsung curcol destinasi :D

Ok next…

Siang sudah berganti malam. Sambil menunggu teman-teman yang menjemput tamu dari Jakarta, mas Besar a.k.a mas Ain ..hehe ,, saya bersama mas Yudhi, Huda, Dian, Jiepu, Anca, Hotman, dan Ricky, malah main tepok nyamuk dan gegitaran geje di kastil. Dan begitu setelah mas Ain tiba, kami pun melanjutkan destinasi untuk menikmati makan malam dengan menu mie titi. Yaak.. Mie yang cukup khas saya rasa. Meski sudah disiram kuah kental, mie ini tetap kriuk layaknya makanan jaman dulu, Anak Mas. Hehehe… dilanjutkan menghabiskan malam di anjungan pantai Losari.

Maen tepok nyamuk :D

Mie Titi


Anjungan city of Makassar - Losari

2 November 2013

Selamat pagi, Makassar ^_^

Dengan berbekal arahan dari kak Ammy (salah satu SIGiers Makassar juga), maka hari ini tujuan saya adalah Benteng Rotterdam dan Pulau Samalona. Yaa.. kak Ammy mempercayakan seorang teman backpackernya, bang Danny untuk menemani saya dan mas Yudhi ke Samalona.

Jam setengah 8 pagi, diantarkan oleh Indira dan Anca ke pelabuhan, yang kebetulan bersebrangan dengan Benteng Rotterdam, kami pun berangkat. Berkeliling sejenak dan berfoto di benteng Rotterdam, jam 9 pagi kami menuju pelabuhan.


at Benteng Rotterdam , (ki-ka) MasYudi, Anca, Saya, Indira
 
Dengan menyewa boat seharga 300ribu - PP (bisa muat 10 org lebih), saya, mas Yudhi, dan bang Danny menuju Pulau Samalona. Meski ongkos boat nya agak mahal untuk ukuran jalan bertiga, saya tentu tak mempermasalahkannya. Apalagi kalau bukan karena alasan “mumpung sudah sampai Makassar, masa iya tidak di explore semaksimalnya, triiing..” hehehehe…

Samalona we're coming ^_^


Halo Pulau Samalona…
Pulau kecil nan indah yang dihuni beberapa kepala kluarga. Dan ternyata juga pulau ini dimiliki oleh beberapa orang. Rasanya tak sampai 15 menit kalau mau menyusuri keliling pulau ini. Kebayang dong kecilnya pulau ini.


Sayang saya tak merasakan keindahan bawah lautnya dikarenakan luka lecet di kaki saya masih terasa ngilu. Tapi saya cukup menikmati keindahan pulau ini. Rasanya pengen tiduran aja gitu di pulau ini sambil dibelai angin pantai… tsaaaahhh… :D :D Maka sejam lebih saya biarkan partner saya berkeliaran di tengah laut.

Jam setengah satu, kami pun memutuskan kembali menyeberang ke kota Makassar. Ditemani terik matahari, sesampainya di Makassar, kami menyusur sambil berjalan kaki mencari oleh-oleh di pusat perbelanjaan oleh-oleh Makassar, dekat pantai Losari.

saya, bang Danny, Mas Yudhi

Jam dua siang, kami berpisah dengan bang Danny karena bang Danny ada urusan lain, dan kami pun memutuskan untuk pergi ke trans studio mall, bertemu penulis idola, mas Donny Dhirgantoro, yang kebetulan sedang roadshow di Makassar.



Sepulangnya dari Trans studio mall, kami seharusnya menyambangi SIGIers Makassar di venue acara, tapi dasar saya tak rela melewatkan kesempatan emas, saya pun memaksa mas Yudhi untuk kembali ke Losari sekedar menikmati sunset. Dan boom.. berhasil… sunset di pantai Losari kereeeenn… seumur-umur saya nge-bolang, belum pernah seberhasil ini menikmati sunset.



Maka kamipun tiba di venue acara ketika teman-teman lainnya sudah hampir bubar. Hihih… tamu ga sopan nih yaaa… datang bukannya bantuin,, malah jenjalan main-main keliling Makassar. Yaaa… harap maklum ya teman-teman :D

Seselesainya persiapan di venue, kamipun makan malam dengan coto kembali. Dilanjutkan dengan sedikit persiapan lagi di kastil, kami pun masing-masing sampai pada titik kelelahan. Satu-persatu mulai tertidur menanti hari esok yang akan lebih melelahkan tapi juga pasti menyenangkan. Tapi beberapa ada yang masih setia di bandara menunggu tamu yang satunya, Intan – Surabaya, yang ternyata pesawatnya delay parah sampai dini hari. Aaahh… saya pun sudah tak tau jam berapa Intan sampai di kastil.


3 November 2013

The Day…

Sejak shubuh semua sudah mulai bangun dan bersiap. Beberapa bersiap dengan kostum tariannya, beberapa masih saja berebut kamar mandi, beberapa ada yang sudah bangun malah tidur lagi, ada yang menyiapkan sarapan, ada yg masih sibuk menyetrika baju bahkan berebutan baju… aaahh… kekacauan pagi ini pasti akan saya rindukan :’)

Sekitar setengah sembilan, saya yang dibonceng Iqbal, tiba di venue acara. Masing-masing SIGiers dan partisipan dari komunitas lain mulai bersiap. Dan Retno (SIGiers Medan) akhirnya tiba juga, mendarat dengan selamat sebagai tamu terakhir di detik-detik acara akan dimulai.

Diawali dengan barisan para penari yang berjalan perlahan dari pintu masuk, kata-kata sambutan khas daerah Makassar yang bikin merinding karena pake acara nodong-nodong pisau, hehe, kemudian dengan tari Paduppa, acara pun resmi dimulai.







Tari Paduppa


Kata sambutan dari ketua panitia, sambutan ketua SIGi Makassar, dan sambutan perwakilan dari Gubernur Makassar pun ikut membuka acara. Serentetan acara keren pun berlangsung. Tarian, Nyanyian, persembahan kreatifitas dari adik-adik asuh SIGi Makassar dan adik-adik asuh Komunitas Pecinta Anak Jalanan (KPAJ Makassar), Gelas kosong (share ide dan kisah inspiratif) antar komunitas (disini nih saya merasa tersanjung, bingung, malu, campur aduk… duuhh… harus duduk di depan khalayak penonton, dan ditodong kisah-kisah dari SIGi Medan.. hihihi  >.<) , ngumpulin receh (receh kahuripan) dari tamu peserta untuk kemudian disumbangkan, dan surprise performance dari Fiersa Besari (musisi Bandung, yang kebetulan sedang berpetualang di Makassar, Thanks a lot bung ^_^)

Aksi menyanyi adik-adik asuh SIGiers Makassar

Aksi drama dan tarian adik-adik KPAJ

Gelas Kosong
w/ Fiersa Besari

Acara pun selesai tepat jam 4 yang ditutup dengan perayaan ulang tahun SIGi Makassar, dengan memotong tumpeng, dan aksi cup song SIGiers Makassar. Kalian Awesome guys :)

Dengan berat hati, saya pun harus melangkah meninggalkan Makassar di tengah-tengah acara yang sesungguhnya belum benar-benar selesai. Yaiya siih… masih pada sibuk foto-foto dan tentunya membereskan kembali venue :)

Dan lagiii… saya harus meneteskan air mata. Setelah sahabat-sahabat Bandung, kini sahabat-sahabat baru dari Makassar pun ternyata sukses buat saya nangis karena harus berpisah.

Entahlah… sangat sulit untuk dideskripsikan. Hanya bisa dirasa disini *nunjuk hati :’)*

Menuju Bandara dengan hanya diantarkan oleh Adry (Makasi banyak ya Adry, kakak alien ;) ) saya pun lepas landas sendirian tanpa partner semprul saya menuju Jakarta, untuk kemudian melanjutkan perjalanan.



Terimakasih Allah untuk kesempatan berharga ini.
Terimakasih SIGiers Makassar untuk acara kerennya. Terimakasih sambutannya selama saya di Makassar.
Maaf bila ada yang kata dan sikap yang kurang berkenan.
Semoga kita bisa dipertemukan kembali :’)

Salam rindu dari Medan ^_^




Minggu, 12 Januari 2014

Untuk Vague

Tentang lalu yang mungkin sakit dikenang,,
namun inilah tentang lalu yang layak disimpan rapi.

Tentang langkah baru untuk bahagia,,
dan tentang asa yang masih ada untuk terus menoreh senyum.

Vague - by. Cappucinored


Mungkin saya sok tau... euumm... pengaruh saya cukup mengenal sang penulis tampaknya ^_^
Buat saya, Vague adalah cerita tentang kesedihan, sakit hati, dan berujung pada bahagia, yang dituangkan dalam bentuk bait-bait puisi. Entah memang pengalaman dari penulis ataupun kolaborasi dengan kisah di sekitarnya :)

Dan saya coba merangkum komentar untuk Vague lewat bait-bait kalimat yang tertulis di awal tulisan ini. 
Yaaa.. karena saya bukan orang yang pinter mereview sebuah karya, tulisan/ film/ musik, apapun. 
Kadang tak peduli apa kata mereka, beginilah cara saya menyampaikan apa yang ingin saya sampaikan :)

Rilis sejak pertengahan tahun 2013, namun saya mungkin satu-satunya orang yang termasuk peminat awal buku ini, tapi justru baru selesai membaca buku ini di akhir tahun 2013.
Gak mau buku ini dikirim ke rumah, gak mau minjem buku ini meski ada teman di Medan yang udah punya, dan selalu masa bodo dengan sgala postingan tentang buku ini oleh orang-orang yg sudah membacanya lebih dulu.

Saya selalu punya cara sendiri untuk menikmati karya.
Datang menjemput langsung buku ini. Sebuah karya dari seorang sahabat. Ke Bandung menjelang akhir tahun.
Meski pada akhirnya bukan si teteh langsung yang ngasih (sempet merusak rencana sih ini namanya,, huw >.< ) , tapi setidaknya, perjalanan saya ke Bandung membawa oleh-oleh berupa Vague :)

Teruslah berkarya teteh cappucinored, a.k.a Windri Fitria :)
Sadar ataupun tidak... terimakasih sudah menjadi inspirasi untuk tulisan saya..


Tertanda,
-cimoeci-


Selasa, 31 Desember 2013

Nyatamu Tak Menjawab Tanyaku



Aku bukan gadis kesepian. Dan bukan pula termasuk gadis tak menarik. Yaa… ke-pede-an mungkin. Tapi kenyataannya, bukan tak ada lelaki yang berusaha mendekatiku, bahkan sejak aku masih memakai seragam putih biru.
         Meski begitu, aku bukan gadis yang gampang jatuh cinta. Sampai usia ku yang kini menginjak 23 tahun, aku tak pernah berpacaran. Entahlah… apa karena memang belum ada yang cocok, atau memang aku yang belum siap menjalin komitmen. Maka jadilah hari-hariku diisi dengan membaca buku, menonton film di komputer, atau berselancar di dunia maya untuk mengisi hari-hariku setelah bekerja dan selain kumpul dengan teman-teman.

***

September 2010, 20.13 WIB
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Aku sudah duduk rapi nan manis di depan komputer yang walau butut tapi masih menjadi kesayanganku. Memulai aktivitas yang juga hampir sama seperti malam-malam sebelumnya. Berselancar di dunia maya. Iya... untuk bertemu kamu.
Kamu, lelaki yang hampir tiga bulan terakhir cukup dekat denganku. Kamu, lelaki yang entah bermula darimana kita berkenalan yang pada akhirnya kita sekarang semakin dekat, walau masih di dunia maya.
Entah memang lagi ngetrend atau memang ketidaksengajaan, perkenalan lewat jejaring sosial facebook kita lakoni hampir setahun lalu. Berteman biasa dan saling meninggalkan komentar di status atau foto. Yang lama kelamaan, masih dengan kondisi kita pun saling tak paham darimana mulanya, kita semakin dekat. Tak saling berjanji, tapi kita saling mencari hampir setiap malam hanya untuk chatting membicarakan hari-hari yang telah kita lewati masing-masing. Yang kemudian obrolan via chatting pindah ke ponsel dengan format SMS, kemudian naik level menjadi saling bertukar kabar dengan menelpon, bercerita via ponsel.
Kita, mungkin bukan pasangan pertama apalagi satu-satunya pasangan yang menjalin hubungan seperti ini. Hubungan apa ini namanya, kita pun tak berusaha mendefenisikannya. Kita masih menikmatinya. Kita masih terus menjalaninya.

DiandraMyName : Akhir tahun kamu libur panjang kah?? Pulang ke Medan kan..?? Bisa ketemu..??

Aku memulai obrolan di Yahoo Messenger malam itu langsung dengan memborbardir pertanyaan.
Yaa… meski tak jarang kita sms-an dan telepon-an, namun paling tidak, tiga hari atau satu minggu sekali, kita pasti memanfaatkan Yahoo Messenger untuk berkomunikasi. Dan kita selalu bisa mengobrol panjang lebar kalau melalui dunia maya.

Riz_Sky : Aku usahakan. Kalau akhir tahun kan suka banyak deadline. Dan kalau pun pekerjaan ku selesai tepat waktu, jalanan pasti macet, aku gak bisa janji datang tepat waktu.
DiandraMyName : Banda Aceh – Medan berapa lama sih?? Bisakan kita ketemuan sambil tahun baruan??

Riz_Sky : 10 – 12 jam. Iya… aku usahakan, Di. Aku memang udah libur dari tanggal 31 Desember. Jadi mudah-mudahan aku bisa berangkat tanggal 30 malem dan udah di Medan tanggal 31, dan sorenya bisa ketemuan sama kamu.
DiandraMyName : Nah kaaann…!! Berarti bisa… ayolah Ky…!!
Riz_Sky : Iya… aku penasaran sama kamu. hehehe…
DiandraMyName : hahahah… ya kamu kira aku enggak..?? *eh :p

Dan malam itu obrolan pun berisi segala rencana pertemuan kita di malam tahun baru nanti. Aahh… jujur saja aku tak sabar menanti hari itu tiba.

***

30 Desember 2010, 22.05 WIB

Ponselku berdering membangunkanku. Aahh.. agaknya aku tertidur.
Aku udah di bus. Dan baru aja busnya berangkat.
Pesan singkat dari kamu baru saja kuterima.
Ku balas SMS-mu sesegera mungkin.
Oh iya… take care ya Ky… kalau sudah sampai kabari lagi. Aku ngantuk berat nih. Tidur duluan yaaa…
Sent Messages.

***


31 Desember 2010
Pagi ini terasa lebih cerah. Aaahh… aku seperti insan yang sedang jatuh cinta saja. Senyum-senyum sendiri sejak membuka mata. Eh.. apa iya aku jatuh cinta?? Batinku. Seperti ini kah rasanya??
           Ku lihat layar ponselku. Wallpaper dengan jumawanya terlihat tanpa ada pesan masuk atau panggilan tak terjawab.
            Ku lihat jam dinding di kamarku, sudah hampir jam sepuluh pagi. Tapi kamu tak ada kabar. Aku pun mencoba menghubungimu. Nihil. Panggilan dari ponselku tak kamu jawab.

Ky… udah sampai Medan kah…??
Sent Messages.

Jam dinding di kamarku sudah bergerak ke arah jam dua belas siang. Tapi sms ku tak juga berbalas. Aaahh… kenapa ini…?? Ada apa dengan Rizky…?? Apa dia berbohong padaku..? pikiran terjelekku akhirnya muncul.
Ku coba kembali menelepon kamu, malah ponselmu kini tak aktif. Ah,, mungkin ponselmu lowbat, kali ini aku mencoba berpikir positif.

***

Langit sudah hampir gelap, kabar darimu tak juga ku terima. Tapi aku tetap memutuskan akan ke tempat itu. Tempat dimana kita berjanaji, berjanji akan bertemu.
          Dan ku sempatkan mengirim pesan singkat sebelum aku berangkat ke tempat itu karena ponselmu masih tak aktif.

Ky… kamu dimana sih…?? Kok gak ada kabar..?? baik-baik aja kan..?? aku on the way ke TKP yaaa… sampai ketemu. Aku harap kamu nepati janjimu.
Messages pending.

Yak… rasanya aku ingin membanting ponselku. SMS ku tak terkirim. Berarti ponsel kamu masih belum aktif.

***

31 Desember 2010, 20.43 WIB

Maaf Di… begitu sampai Medan ponselku mati. Dan sesampainya dirumah aku charge tapi gak aku aktifkan. Maaf yaaa… bus ku juga tadi sampai Medan telat. Aku malah baru sampai di rumah jam 3 sore. Dan malah ketiduran. Sekarang aku on the way kok. Sampai ketemu di TKP yaaaa… :)

SMS kamu barusan cukup menenangkanku. Dan seketika saja raut wajahku berubah. Yaaa… kalau saja ada yang memperhatikanku pasti sangat terlihat jelas perubahan di wajahku.

Okey… gak apa..
oh iya..Aku udah di lapangan merdeka… lagi jalan menuju titik nol kilometer. kamu udah sampe mana…??

Kubalas SMS kamu secepatnya. Karena menelpon dengan suasana ramai seperti ini tentu tak ada gunanya. Yaaa… Lapangan ini sangat penuh sesak. Suara live music dari panggung utama tentu akan mengganggu, dan suara-suara petasan yang sesungghuhnya belum waktunya dinyalakan pun akan mengganggu pembicaraan via ponsel kalau dipaksakan.
            Suara pembawa acara dari panggung utama semakin riuh. Agaknya pergantian tahun sebentar lagi. Ku lihat jam tanganku menunjukkan pukul 23.50 WIB. Yaaa… sepuluh menit lagi kita akan ada di 2011. Dan ku lihat pula ponselku. Kamu tak membalas SMS ku yang terakhir. Aku masih saja bolak-balik duduk – berdiri, mondar-mandir disini menunggu kamu. Di titik nol kilometer kota Medan, tugu Pos Indonesia, bundaran Lapangan Merdeka Medan.
            Aku berlari kecil ke arah penjual minuman. Menunggumu cukup menguras energi. Ku lihat kembali jam tanganku sambil berjalan berbalik arah menuju titik pertemuan kita. Ku arahkan pandanganku ke langit malam. Kembang api sudah mulai memecah dengan cantiknya. Sepertinya sudah tepat jam dua belas. Tapi kamu…. aku belum menemukanmu.
            Sampai akhirnya… setelah aku memastikan bahwa ini tepat jam dua belas melalui jam tanganku, saat itu pulalah aku mematung, memastikan yang berdiri di depanku adalah kamu. Iya… Kamu, Rizky Satria.
“ Hey…” Katamu sambil tersenyum dan berjalan mendekatiku.
Sementara aku masih mematung.
“ Rizky…?” tanyaku mencoba meyakinkan.
“ Iya, Andra… ini aku… Sky..!!”
Ah… iya… yang didepanku kini memang kamu. Kamu yang suka usil memanggilku Andra padahal aku tak suka karena seperti nama cowok, dan kamu yang sok keren dengan menyebut dirimu sky, lelaki langit, katamu kala itu menjelaskan.
Jantungku pun berdegup tak karuan detik ini. Suara petasan, kembang api tak lagi terdengar keras, pecahan kembang api pun terasa melambat bak film… slow motion. Ahahaha… aku menertawakan diriku sendiri malam ini. Mungkin aku agak berlebihan. Tapi entahlah… bahagiaku malam ini memang sangat berlebihan, tumpah semuanya.
            Kamu mengulurkan tanganmu. Dan kita pun berjabat tangan. Suara keriuhan malam pergantian tahun pun usai ketika pada akhirnya kita jalan beriringan.
“ Maaf ya sudah membuatmu menunggu lama…”
“ Iya.. gak apa-apa. Aku kirain kamu bohong lho…” kataku sambil tersenyum tapi kesal. Tapi kamu malah tertawa renyah.
        Ahh… Rizky… kamu memang begini adanya. Dunia maya dan dunia nyata, kamu tak ada bedanya. Terkesan cuek dan usil.
         Jam sudah menunjukkan hampir jam satu dinihari. Kita masih larut dalam obrolan seru ditemani kacang rebus dan teh hangat di pelataran lapangan merdeka yang semakin lama keramaiannya semakin berkurang.
       Obrolan agaknya semakin seru dan mendalam. Tapi aku tak menemukan jawaban atas pertanyaan hatiku yang selama ini aku simpan.
“ Well… senang bisa ketemu kamu. Dan kita akan seperti ini terus kan…??” katamu masih dengan muka penuh senyum.
“ Haaa..??” aku sedikit tak paham.
“Iya… jujur, aku suka sama kamu, dan gak usah bohong kamu juga suka kan sama aku..?”
“Idiiihh… apaan..?? GR…!!” aku mencoba menutupi perasaanku.
“Andraaaa... Andraaaa… untuk sekarang, kamu gak usah nyanyi kayak lagu siapa itu… oh iya.. Armada Band… mau dibawa kemana hubungan kitaaa….”
Aku tersenyum kecil sambil mengernyitkan dahi.
“Kita ya seperti ini saja. Seperti sebelum-sebelumnya. Pertemuan kedua juga aku ga bisa janji apa-apa sama kamu.”
“Euumm…”
“ Sudahlah… pulang yuk…!!” Rizky menarik tanganku.

Sial… apa-apaan ini. Barusan itu adegan penembakan apa bukan..?? Lalu kita ini apa, Ky..? Pacaran bukan, trus teman tapi mesra..? atau hubungan tanpa status..??
Segala tanda tanya bermunculan di kepalaku. Tapi entah kenapa tak semuanya mampu keluar dari mulutku untuk kemudian kutanyakan padamu. Maka sepanjang jalan menuju rumah aku tak mau berpikir apapun, tak mau berpikir apa yang akan terjadi setelah ini, karena aku pun sungguh gak mengerti apa yang sedang aku alami.




NYATAMU TAK MENJAWAB TANYAKU – Adinda Juwitasari – #NulisKilat – @_PlotPoint @BentangPustaka