Senin, 25 November 2013

Kita untuk Sinabung



08 Nov 2013, 07:29:57

Sepagi ini saya sudah mendapat sms. Dan isi sms bukanlah sms yang bisa diabaikan bgitu saja.
Nada Gultom, dari pihak Nyfara Foundation kembali mengajak teman-teman dari SIGi untuk kembali merapatkan barisan dalam aksi Peduli SInabung.
Yaaa… kita diundang rapat untuk membahas aksi Peduli Sinabung.
***

Gunung Sinabung, ternyata erupsinya di September 2013 belum berakhir. Justru tampaknya kini semakin parah. Di bulan November ini sudah berulang kali Sinabung erupsi. Penduduk kembali mengungsi.
Kita tentu tak dapat menutup mata, telinga, dan hati untuk berpura-pura tidak peduli dengan situasi seperti ini. Maka ketika kita mampu, maka tak ada alasan untuk menolak, berbalik arah, atau mundur demi peduli sesama.
***


16 November 2013

Setelah 2 kali diskusi, maka hari ini ditetapkanlah sebagai gerakan serentak beberapa komunitas di Medan untuk menggalang dana di beberapa titik jalanan kota Medan.

SIGi pun menyanggupi kegiatan penggalangan dana di seputaran Juanda-Polonia dan Taman Ahmad Yani.
Disertai gerimis dan hari yang mulai gelap, SIGi Medan tak gentar untuk berjalan dari satu ruas jalan ke ruas jalan lainnya, dari 1 mobil ke mobil lainnya, dari 1 warung ke warung lainnya, untuk mengumpulkan donasi.

***


24 November 2013

The Day.
Kumpulan Komunitas Anak Medan Peduli Sinabung, siap berangkat ke pos-pos pengungsian gunung Sinabung hari ini.

Dengan diawali doa bersama, pukul 10.30 pagi kami berangkat menuju TKP dengan satu angkot yang berisi seluruh donasi, dan 3 mobil pribadi yang berisi beberapa orang perwakilan dari tiap komunitas, diantaranya Nyfara Foundation, Berbagi Nasi Medan, SMPN 2 Medan, Medan Heritage, dkk.
 briefing dan doa bersama sebelum berangkat

Dan kali ini, dari SIGi mengikutsertakan 5 SIGiers yaitu saya, Nanda, Rani, Kak Syarifah, dan Yudhi Octantyo.
 ki-ka : Rani, Kak Syarifah, Yudhi, Nanda, Saya

Meski malamnya sempat hujan abu vulkanik yang cukup parah sehingga abu vulkanik mencapai Medan, tak menyurutkan langkah kami untuk berangkat.


13.00 WIB

Setelah sebelumnya singgah untuk makan siang di lokasi Penatapan, Bandar Baru, akhirnya kami sampai di Mesjid Istihrar Brastagi untuk menunaikan shalat zhuhur.

September lalu, saat kami pertama kemari pengungsi sangat sedikit berada di mesjid ini. Tapi kini, mesjid ini penuh, tapi Alhamdulillah bantuan masih cukup memadai. Maka kami memutuskan untuk menyalurkan bantuan ke lokasi pengungsian yang lain.

Sembari menunggu teman-teman lain yang masih sholat, sekitar pukul 13.20 WIB hujan abu turun lagi. Para bapak ibu saling berteriak-teriak menyuruh keluarga mereka masuk ke dalam mesjid, anak-anak pun berlari dari segala arah, adapula ibu dan bapak yang menggendong anak-anak mereka sambil berlari, dengan satu tujuan, ke dalam mesjid. Dan saya cukup merasa deg-degan namun hanya bisa terpaku melihat dan merasakan kondisi ini.

Seperti ini rasanya hujan abu vulkanik. Seperti ini rasanya ketakutan ketika hujan abu vulkanik mulai turun. Seluruh tubuh saya pun mendadak dipenuhi bintik-bintik abu vulkanik. Tapi ini mungkin tak seberapa. 

 abu vulkanik yang singgah di jilbab saya


13.30 WIB

Kami pun melanjutkan perjalanan. Sambil berkoordinasi dengan beberapa orang, diperolehlah informasi bahwa ada beberapa posko pengungsian baru yang dibuka karena letusan Sinabung tadi malam. Salah satunya di SMP Muhammadiyah 43 Kabanjahe.

Alhamdulillah, ketika kami tiba disana, bantuan untuk para pengungsi sudah cukup memadai, meski masih kesulitan air bersih. Dan disana ada teman-teman dari komunitas Sedekah Bareng yang sedang bermain dengan anak-anak.
temen-temen dari Sedekah Bareng sedang bermain dengan anak-anak

Maka kami pun melanjutkan pencarian posko baru lainnya.
Jambur Dalihannatolu. Posko ini baru dibuka jam 5 shubuh oleh pemuda karang taruna, dan baru saja diambil kewenangannya oleh bapak-bapak dari TNI. Maka jelas di posko ini belum tersentuh bantuan.
Hanya ada setumpuk kecil bantuan dari posko pusat. Dan kami pun menyalurkan bantuan ke lokasi ini. Lokasi yang sampai kami menurunkan bantuan pun, pengungsi tak henti-hentinya berdatangan dan mendaftarkan diri di sekretariat posko.

Hasil sementara, di posko ini dihuni oleh penduduk dari Desa Sigarang-garang, Desa Kutagugung, dan Desa Kuta Rayat.



 kondisi di posko pengungsian Jambur Dalihannatolu

serah terima donasi

 foto bersama


16.00 WIB

Kami pun tiba di posko selanjutnya. Posko pengungsian yang baru dibuka pukul 00.00 dini hari. GBKP (gereja) di jalan Kabanjahe – Kutacane. Di posko ini terdiri dari penduduk desa Kuta Rayat dan Desa Payung. 

Yaaa.. saya masih ingat bagaimana lokasi desa ini saat erupsi Sinabung September lalu. 2 desa tersebut masih bisa dijadikan desa tempat mengungsi dari penduduk yang rumahnya pada radius kurang dari 3 km. Tapi kini... Justru penduduk di 2 desa itu pun terpaksa harus diungsikan. Maka terbayanglah bagaimana dahsyatnya erupsi Sinabung kali ini.

Dan di posko ini, bantuan pun masih sangat minim. Air bersih tetap menjadi masalah besar pada posko pengungsian. Posko-posko pengungsian baru kesulitan air bersih. Selain itu fasilitas pendukung untuk para pengungsi pun masih belum memadai, seperti tong besar untuk menampung persediaan air, kuali besar, selimut, dan sebagainya.

 barang yang didonasikan

 kondisi posko pengungsian di GBKP jln. Kutacane


16.45 WIB

Kami pun bersiap untuk kembali ke Medan.
Dengan mengantongi beberapa list barang-barang yang sangat dibutuhkan oleh pengungsi, kami merasa perlu untuk kembali kesana, kembali mengajak banyak orang untuk peduli, untuk membantu saudara-saudara kita di Kabupaten Karo. Membantu mereka dalam hal memenuhi logistik dan tentu saja membantu pemulihan psikologis mereka.

Ladang mereka habis, rumah mereka pun sudah tak lagi terurus bahkan ada yang atapnya bolong karena dihujani kerikil berulang kali. Sementara Sinabung belum tahu kapan sembuhnya.


kondisi Gunung Sinabung, 24 Nov 2013, 17.00 WIB


Bisakah kita diam mengetahui kondisi seperti ini…?

Kami, Sahabat Indonesia Berbagi (SIGi) Medan, mengajak siapapun Anda yang ingin bergerak, yang hatinya tergerak, untuk ikut peduli menyalurkan bantuan melalui…  


Rek. Mandiri  1060006998622 a.n Adinda Juwita Sari
Rek. BCA 8430211308 a.n Adinda Juwita Sari

Mohon konfirmasi ke no. 0856 681 95 687 setelah transfer.

Atau bisa hubungi ke nomor tersebut untuk info penyaluran donasi langsung.
Apapun, berapapun yang kita donasikan akan sangat berarti bagi mereka.

-NB. Donasi ditunggu hingga 11 Desember 2013-

Mari jadi orang hebat yang bergerak ketika tergerak.
@SIGiMedan

Rabu, 25 September 2013

Catatan Perjalanan untuk Kepedulian

Seorang pemuda setempat menghampiri saya sambil mengatakan sesuatu yang mulanya saya tak mendengar dengan pasti karena suara dari dalam ruangan lebih besar volumenya.

“Iya bang, kenapa…?” tanya saya untuk memastikan dia berbicara apa.

“Ayo kak, kita makan bersama di dalam.” Katanya.

Sambil tersenyum saya pun menjawab. “ Oh iya.. makasi bang… silahkan… abang saja duluan.”

Yaaa… dia adalah satu dari 400-an pengungsi yang ada di Desa Payung, Kec. Payung, Tanah Karo yang berasal dari Desa Suka Meriah (satu dari 5 zona merah, daerah rawan terkena erupsi Gunung Sinabung).

Meski dalam kondisi yang memprihatinkan, dia masih bisa tersenyum, bahkan mengajak saya, yang kala itu datang bersama rombongan Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI, Reg.Medan), Sahabat 5cm SUMUT, dan Nyfara Foundation untuk memberikan bantuan kepada para pengungsi gunung Sinabung.

Makan dijatah, hidup bersama dengan ratusan orang lainnya, hanya beralas tikar, bahkan beratap tenda. Yaa… seperti itulah kondisi para pengungsi gunung Sinabung.

 makan malam untuk para pengungsi


salah satu kondisi tenda pengungsi


Desa Payung adalah posko pengungsian kedua setelah sebelumnya rombongan kami menyalurkan bantuan ke dusun Kuta Rayat, Desa Kuta Rayat, Tanah Karo, dimana para pengungsi di posko ini sebanyak 1500-an orang lebih.

Di tempat seperti ini lah kita belajar untuk lebih bersyukur. Melihat langsung kondisi para pengungsi, ikut berempati. Apa yang kita berikan tentu tak sebanding dengan rasa takut, traumatic yang mereka rasakan.

Dari Desa Kuta Rayat, menuju Desa Payung, rombongan kami melintas berpuluh kilo meter jalanan sempit yang tak semuanya mulus. Jalanan menanjak dan menurun. Berbelok tikungan tajam dan jalan berbatu. Kami melalui Desa Sigarang-garang, dan Desa Suka Meriah yang seperti kota mati. Tak ada penghuni. Kosong. Hanya ada ayam dan anjing yang berkeliaran. Suasana petang, langit menguning, dan jarak yang begitu dekat dengan Gunung Sinabung jujur membuat kami sempat khawatir. Dari samping kanan jendela mobil jelas terlihat sang Maha Puncak Sinabung masih “batuk” mengeluarkan abu vulkaniknya. Bau belerang pun terasa. Pepohonan, dedaunan, rumah penduduk berubah warna menjadi keabuan karena semburan abu vulkanik.


  perjalanan menuju Desa Payung,, semburan erupsi Sinabung mulai terlihat jelas

 



Handphone saya berdering. Bang Fajri, selaku leader dari Nyfara Foundation, yang berada di mobil depan mobil kami, menghubungi saya kala itu.

“Mbak Dinda, Kita baru aja melewati desa yang penduduknya sudah mengungsi semua. Jelas terlihat kosong ya daerah ini, tanpa penduduk.”

“Iya bang.”

“Jadi, kita tetap lanjut kan…?” tanya bang Fajri

Ah.. sepertinya bang Fajri tau apa yang sedang kami rasakan. Khawatir dan ada rasa sedikit takut. Tapi jujur… dengan telponnya barusan saya cukup merasa lega. Setidaknya saya pun bisa menenangkan rasa kekhawatiran teman-teman lainnya.

“Oke bang.. Lanjut..” Kataku mantap.

 ***

Inilah kali pertama SIGI Medan terjun langsung menyalurkan bantuan ke lokasi bencana. Dan ini pun terlaksana berkat sinergi dengan Nyfara Foundation. Karena kami yakin, ada pengalaman yang berbeda ketika kita bisa terjun langsung ke TKP. Hanya berbincang lewat twitter, bertemu wajah 2 kali, persiapan selama 3 hari (saling koordinasi via Whatsapp-sms-telpon, pengumpulan donasi di jalanan dan Ataby coffee, menerima donasi lewat rekening, belanja kebutuhan para pengungsi), niat kepedulian ini pun berjalan hari ini.... 
Minggu, 22 September 2013.

Berangkat lebih awal dari rombongan Nyfara Foundation, 2 motor yang ditumpangi 4 orang dan 2 mobil berisi 13 orang anak muda ini melintasi berpuluh kilometer menuju TKP. Yaaa… janji akan berangkat bersama terpaksa diurungkan karena kendala beberapa hal. Tapi tak apa. Kami memanfaatkan waktu sembari menunggu rombongan Nyfara dengan berkeliling kota Kabanjahe mengunjungi beberapa posko pengungsian. Mesjid, halaman perkantoran Pemerintah, gereja, jambur (tempat acara adat karo) dipenuhi para pengungsi.

Perjalanan pun kami lanjutkan. Mulanya sekedar ingin bersantai sejenak sambil makan siang karena sudah cukup lelah dan perut lapar. Tapi sembari menunggu rombongan Nyfara Foundation, kami pun membelokkan arah mobil ke Law Kawar, kaki Gunung Sinabung, yang katanya justru tidak terkena erupsi Gunung Sinabung. Sebenarnya ada rasa penasaran campur khawatir. Penasaran apakah benar Law Kawar tidak terkena erupsi Sinabung, dan khawatir jika Law Kawar benar terkena erupsi Sinabung pastilah lokasi itu akan sangat penuh abu vulkanik. Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore, perjalanan menuju Law Kawar pun tak semuanya mulus. Ada satu titik dimana bau belerang begitu terasa meski kaca mobil sudah ditutup. Meski rasa ingin tau kami besar sekali, tapi rasa khawatir tetap saja menggelayuti.

“Mau makan di mana kita ini..?? Semakin kesana kayaknya semakin berabu deh..” ujar salah satu dari kami yang juga di-iya-kan oleh beberapa yang lain.

Pukul setengah 4 sore, kami pun tiba di Law Kawar. Benar saja, Ranu Kumbolo nya Sinabung ini tenang, udaranya cukup bersih, seperti tak ada tanda-tanda Gunung Sinabung sedang sakit. Yaaa… jadi, Law Kawar adalah termasuk kawasan yang tidak terkena erupsi Sinabung, karena erupsi menyembur di balik lokasi ini.

setelah numpang makan, maka pose sejenak di Law Kawar

 dengan latar belakang Gunung Sinabung, terbukti Law Kawar tak terkena imbas langsung erupsi Sinabung

Pukul 4 sore lewat sedikit, kami melanjutkan perjalanan. Janjian bertemu di salah satu persimpangan pukul setengah 5 dengan rombongan Nyfara Foundation untuk berangkat beriringan menuju posko pengungsian.
Perjalanan kami menuju 2 pos pengungsian di kawal oleh pemuda setempat. Sayang, saya lupa menanyakan nama abang tersebut. Tapi kami percayakan tujuan kemana bantuan kami akan disalurkan kepada dia. Karena memang tujuan bantuan kami adalah menyentuh langsung ke daerah yang cukup dekat dengan kaki gunung, karena kemungkinan bantuan sedikit sampai disana, karena biasanya banyak bantuan hanya jatuh di pengungsian pusat kota.

Alhamdulillah… meski ada beberapa kendala, kegiatan ini berjalan lancar. Amanah dari teman, sahabat, saudara untuk pengungsi Gunung Sinabung telah kami salurkan. Pampers, pembalut, susu bayi, susu anak siap minum, selimut, pakaian, mie instant, obat-obatan, biskuit, dan masker, semoga bermanfaat bagi mereka, dan apa yang sudah kita berikan diberkahi Allah SWT. Amin.





Terimakasih untuk doa dan dukungan dalam bentuk apapun dari semua pihak.

Untuk Rekan-rekan dari Sahabat Indonesia Berbagi (SIGI) dan Sahabat 5cm Medan – SUMUT dan seluruh nusantara, terimakasih support nya dalam bentuk apapun, dari pengumpulan donasi hingga hari H.

Untuk all crew Nyfara Foundation terimakasih sudah bersedia bersinergi bersama peduli sesama. Smoga kita bisa bekerja sama lagi yaaa :)

Untuk bang Aby dan all crew Ataby Coffee yang 3 hari belakangan bersedia coffee shop nya kita rusuhin,, buat kegiatan penggalangan dana, jadi basecamp dadakan. Semoga ga kapok yaaa menerima kehadiran kita :)

Untuk semua donatur, para hamba-hamba ALLAH…. Terimakasih. Semoga ALLAH memberkahi apa yang sudah kalian berikan. 

Kalian semua keren.

Sekali lagi… Terimakasih.

... All crew ...

Senin, 23 September 2013

Kita Bukan Sekedar Cinta Segitiga



“KTP coba keluarin satu-satu…!!”

Ah… apa ini…?? aku mengernyitkan dahi.

“Untuk apa…??” tanyaku

“Yaaa.. biar kita bisa lebih saling tau lagi. Gak ada pemalsuan data diri, biar ketauan umur.” Katanya lagi.

Yaaa… Syahroni Akbar Prabowo, aku biasa memanggil dia Kembaran atau Twin (sejarah kami yang mengaku anak kembar hanya karena kami punya baju yang sama, jauh sebelum kami saling kenal). Di sebelahnya duduk lelaki jangkung bernama Andi Budiman, yang aku panggil Kang Andi.

Kami… diperkenalkan lewat satu komunitas di jejaring sosial facebook. Dan malam itu, tak pernah terbayang di benakku sebelumnya aku akan menghabiskan semalam suntuk menyusur kota Bandung bersama dua lelaki ini. Dua lelaki yang aku kira sudah berteman lama, tapi ternyata mereka pun baru kenal gegara komunitas tersebut. Tentu saja berkenalan denganku hanya beda beberapa bulan, karena pada akhirnya aku menyempatkan diri menginjakkan kaki di Bandung untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatku dan menemui mereka.

Euumm… bukan.. bukan hanya mereka. Ada teman-teman lainnya yang tergabung dalam komunitas yang ingin aku temui. Tapi tak bisa dipungkiri entah kenapa dengan dua lelaki ini aku punya ikatan khusus, sejak aku bertemu dan berjabat tangan dengan mereka. Dan aku percayai, ikatan yang hingga kini semakin kuat. Dan ada rasa syukur kepada Allah telah mengijinkanku mengenal mereka.

Jalan bertiga untuk pertama kalinya. Semalam suntuk. Dan kita semacam teman lama yang sudah sering jalan bersama. Tak ada ragu, tak ada batas. Hampir dua tahun lalu.


nge-Nasi goreng mumet deket ITB :D



Sempat-sempatnya bergaya ala the beatles di tengah jalan, dini hari, perempatan Dago



***

Aku masih membolak-balik badanku berusaha untuk tidur di dinginnya malam di Prapat. Yaaa… kita sampai ke Prapat terlalu cepat. Dini hari. Hanya karena supir travel yang kita tumpangi melesat lebih cepat dari seharusnya. Jadilah kita bermalam di pelataran mesjid Prapat.

Kang Andi sudah kulihat tertidur pulas. Si Twin pun tampaknya sudah menemukan posisi nyaman untuk tidurnya.

Aaaahh.. meski sudah beralas kain yang tak begitu tebal yang entah kenapa sempat aku bawa untuk perjalanan ini dan memakai jaket tebal, tetap saja aku masih merasa kedinginan. Sampai pada akhirnya aku menemukan posisi tidur yang nyaman, tepat dengan posisi memunggungi punggung si Twin.

Aku pun berhasil tidur beberapa jam hingga suara adzan berkumandang. Pintu mesjid yang sudah dibuka pun menyambut kedatanganku. Aaahh… akhirnya bisa menghangatkan diri di dalam mesjid sebelum aku menunaikan shalat shubuh.

Hari itu, setahun lewat beberapa hari, kita bisa bertualang lagi bertiga. Iya,, bertiga. Tetapi bedanya, saat itu kita ada di tanah Sumatera, tanah kelahiranku. Petualangan yang  tak pernah terbayang dalam mimpiku sekalipun.

Kembali melewati malam bersama kalian. Berjalan kaki menyusur jalanan.

Prapat, Danau Toba, Samosir menjadi saksinya kala itu. 

ga mau kalah eksis sama patung Sigale-gale :D

 tiga insan menerjang badai... eheheh..


***

“ke Selasar Sunaryo yuk..!!” Kang Andi menawarkan.

“Ah.. udah pernah kang. Ada tempat lain kah yang ga kalah seru..?” tanyaku.

“Lawangwangi aja gimana..?” Kang Andi member penawaran lain.

“Haa..?? tempat apa itu??” aku pun penasaran.

“Kayak CafĂ© gitu.”

“Googling aja kali ih…” si Twin pun ambil suara.

Beberapa menit berlalu menunggu hasil dari mbah gugel.

“Gimana..?”

“waaa… keren ini… ayuk..ayuk.. kesana..” aku pun bersemangat.

Yaaa.. kali ini, untuk kesekian kali aku berkunjung ke kota kalian. Dan untuk ketiga kali kita akan menikmati hari khusus bertiga saja.

Jalan Dago Giri adalah tujuan kita. Tak ada angkot menuju kesana. Dan kendaraan pribadi pun tak mendukung. Maka jalan kaki (seperti biasa… hahaha) menjadi pilihan. Karena diyakini pun tempat ini tak jauh dari kosan kang Andi.

Setengah jam lebih sudah berjalan kaki dengan kontur jalanan naik turun semacam lagi naik turun bukit. 

Pfuuhh… hawa dingin Bandung pun tak terasa lagi. Keringat mengucur. Tapi tempat tujuan tak juga tampak.

45 menit berlalu. 
Seperti melihat air di gurun pasir, kita tiba di Lawangwangi.

Akhirnyaaaaa….

Jalanan Bandung, Lawangwangi, tiga bulan yang lalu, menjadi saksi cinta kita lagi.

Iyaaa… kebersamaan tiga insan yang dipertemukan pasti karena Allah, dan insyallah saling menyayangi dan mencintaipun karena Allah.

Tiga insan yang bukan terjebak dalam lingkaran cinta segitiga seperti cerita sinetron, tapi cinta segitiga layaknya satu keluarga. Cinta segitiga yang kadang sulit dijelaskan.



Lawangwangi... kami dataaaaaaang :D



***

Terimakasih atas pertemuannya.

Terimakasih atas kebersamaannya.

Ku rangkum perjalanan kita sejak pertama bertemu dalam tulisan ini. Karena sepertinya aku menyadari sesuatu bahwa tiga bulan yang lalu itu adalah mungkin perjalanan khusus kita bertiga untuk terakhir kalinya.
Karena waktu tak bisa menunggu. Mimpi kita pun tak bisa ditahan. Kita punya satu tujuan masing-masing bersama “masa depan” kita. Yang mungkin jika kita nanti diberi kesempatan jalan dan bertualang bersama, pasti sudah tak bisa bertiga lagi. Tapi sungguh, jika itu kesampaian pasti tak kalah seru :D

Dan jika setelah ini kita masih diberi kesempatan jalan bertiga lagi, mungkin itu bonus, sebelum kita bersama “masa depan” kita masing-masing.


Jumat, 16 Agustus 2013

Mini Market Lebaran



Sreeett..!!
Terdengar suara pintu ruko di depan ku terbuka.
“Ayo dek, giliran kalian..!!” si abang di depan ku mengajak aku dan saudara ku yang lainnya masuk ke dalam ruko itu.
Maka aku, dua orang saudara kandungku, dan beberapa orang sepupu pun bergegas masuk ke dalam ruko tersebut.
***

Kakek, nenek, diikuti pakde, bude, begitupun ayah ibuku, lalu tante dan om, sudah berbaris rapi kemudian duduk berurutan untuk melaksanakan ritual setiap tahun pada keluarga besar ini, di rumah kakek, di suatu kota kecil, kota kelahiran ibuku. Sungkeman lebaran. Dan kemudian disusul pula oleh anak cucu yang juga berurutan sesuai tutur keluarga untuk saling salam-salaman pada momen hari raya idul fitri.

Setelah sungkeman, kami, sang laskar cilik sudah duduk rapi menunggu seamplop lucu atau beberapa lembar langsung tanpa amplop pemberian dari pakde, bude, om dan tante. Yaaa… kami selalu menyebutnya THR. Tak mau kalah dengan orang dewasa, kami pun membutuhkan Tunjangan Hari Raya itu. Lalu senyum dan tawa ceria langsung tersungging dari bibir kami kalau tas kecil khusus THR sudah hampir terisi penuh. Aahh.. aku selalu senang momen ini.

Dan kemudian, saat untuk menghamburkan uang THR ini pun sampai pada waktunya. Setelah bersalaman, lalu makan bersama, aku dan beberapa saudara kecil ku lainnya langsung bergegas keluar rumah kakek. Dengan pakaian dan pernak-pernik kebanggaan saat lebaran, kami menyusuri jalanan kota kecil ini. Seperti tahun-tahun sebelumnya, satu tujuan yang tak pernah berubah, tempat dimana uang THR ini akan tersalur. Dan seperti tahun-tahun sebelumnya juga, tempat itu selalu penuh sesak di lebaran pertama, penuh sesak dengan serombongan anak-anak kecil seperti kami yang mengantri dan berebut akan masuk ke dalam.

Kami berjejer, berbaris ke samping dan saling berpegangan. Bersiap, jika sudah sampai giliran kami masuk, kami bisa segera masuk bersamaan. Dan ketika tiba waktunya, kami segera bergegas sambil sedikit membungkuk masuk ke dalam ruko setelah pintu ruko tersebut terbuka hanya sebatas pinggang sang penjaga ruko. Maka setelah sampai di dalam, kami baru bisa bernapas lega. Meski di dalam ruko tersebut juga masih penuh sesak dengan anak kecil lainnya.

Yaa.. ruko itu adalah mini market sederhana. Satu-satunya mini market di kota kecil tersebut. Mini market yang hanya menjual kebutuhan pokok sederhana dan beberapa jajanan anak. Tapi tempat itu selalu membius setiap tahunnya. Tempat yang dianggap sebagai pengganti mall seperti yang dimiliki kota besar lainnya. Mini market itu selalu penuh sesak oleh anak kecil di setiap lebaran pertama, antrian panjang tak lagi dipedulikan anak-anak tersebut, termasuk kami, maka sang pemilik mini market selalu memberlakukan buka tutup pintu ruko setiap lebaran pertama, agar keramaian anak-anak dapat diatur sedemikian rupa. Entah.. semacam ada kesenangan tersendiri setiap menghabiskan lebaran pertama dengan berbelanja disana. Membeli camilan yang sesungguhnya tak perlu karena di rumah kakek sudah sangat banyak makanan berat bahkan kue lebaran. Tapi itulah anak-anak, selalu punya kebahagiaan versinya sendiri, termasuk aku.

Aku selalu amat sangat gembira ketika menuju mini market itu, dan selalu merasa tertantang ketika berusaha menerobos antrian sesak dari anak-anak lainnya. Keringat mengucur tak lagi jadi masalah. Dan uang THR habis sebagian hanya untuk belanja jajanan pun juga tak masalah bagiku.

Pulang dengan membawa sebungkus plastik penuh jajanan selalu jadi kebanggaan. Memamerkan dengan ayah ibu kami masing-masing apa saja yang sudah kami beli. Kemudian kami akan duduk di taman depan rumah kakek, duduk di ayunan, sambil mengobrol dan bertukar jajanan yang kami beli. Bahkan jika ada yang membeli mainan, siap-siap saja mainan tersebut tak akan berumur panjang, karena akan ada adik-adik kecil lainnya yang usil dan saling berebutan untuk bermain.

Aaahh… lagi-lagi momen Idul Fitri yang selalu jadi kenangan indah. Meski tak lagi dapat terulang, aku bangga dan bahagia bisa punya kisah unik di momen lebaran bersama keluarga besarku.
*** 


“Tulisan ini diikutkan dalam Tjerita Hari Raya yang diselenggarakan oleh @leutikaprio.